Senin, 19 Januari 2009

Metode Cerita

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak merupakan amanah dari Allah SWT. dengan demikian semua orang tua berkewajiban untuk mendidik anaknya agar dapat menjadi insan yang shaleh, berilmu, beriman dan bertaqwa. Hal ini merupakan suatu wujud pertangguang jawaban dari setiap orang tua kepada khaliqnya.

Untuk mewujudkan generasi Islami, dibutuhkan pembinaan dan pendidikan anak sejak dini, pendidikan anak merupakan hal yang amat penting dalam ajaran Islam, sebab anak termasuk bagian yang penting dalam ajaran Islam, karena anak merupakan generasi penerus.

Setelah mengetahui pentingnya pendidikan kepada anak, terutama mencetak anak yang Islami tidaklah semudah teori, karena seorang pendidik di tuntut mampu memainkan peranan dan fungsinya dalam menjalankan tugas keguruannya. Hal ini untuk menghindari terjadinya benturan fungsi dan peranannya, sehingga pendidik dapat menempatkan kepentingan sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara dan pendidik sendiri antara tugas keguruan dan tugas lainnya harus ditempatkan melalui porosnya.

Seorang pendidik harus mengetahui kondisi perkembangan anak lingkungannya dan kesukaannya, untuk memudahkan dalam menanamkan nilai-nilai Islami dalam diri anak, sebagaimana diketahui dalam perkembengan manusia ketika masih anak-anak sangat suka dengan cerita, kisah, dongeng dan sejenisnya.

Kisah ataupun cerita memang sangat menarik untuk dikaji, karena cerita itu sendiri mampu mengambil hati para pendengar / pembacanya baik itu orang dewasa apalagi anak-anak. Dari hal tersebut diatas saat ini banyak sekali dijumpai buku-buku cerita yang diterbitkan dan diperuntukkan bagi anak-anak maupun orang dewasa. Berbagai macam cerita tersebut tidak semuanya layak dikonsumsi (dibaca) oleh anak-anak. Para orang tua dan pendidik haruslah mampu untuk menyeleksi, memfilter buku-buku cerita yang pantas diberikan kepada anak-anaknya.

Tidak semua orang tua dan pendidik tahu pasti tentang buku-buku yang baik untuk anak mereka, oleh karena itu diperlukan adanya pedoman bagi mereka untuk mengetahui cara memilih cerita yang baik. Sebab itu pula penulis tertarik untuk membahas hal tersebut, dengan asumsi bahwa pembahasan mengenai teknik memilih cerita yang baik ini dapat juga dijadikan salah satu bahan materi untuk melengkapi kajian ini.

Setiap proses pendidikan, diperlukan adanya metode yang digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam pendidikan itu sendiri. Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.[1]

Salah satu dari metode pendidikan Islam adalah metode pelajaran berhikmah dan kisah (cerita). Metode ini telah digunakan sejak diturunkannya wahyu sampai sekarang. Bahkan dalam perkembangannya metode ini telah menjadi bagian dari pelajaran bahasa dan telah ditentukan jam khusus untuk itu, hal ini telah ada dalam sistem pendidikan modern terbukti dengan dimasukkannya cerita dalam kurikulum sekolah.[2]

Munculnya berbagai macam buku-buku cerita sekarang ini perlu disambut dengan baik, karena hal itu berarti juga mendukung melengkapi adanya metode pendidikan dengan bercerita. Namun walau demikian perlunya tetap dilakukan seleksi terhadap buku-buku cerita tersebut (terutama buku-buku yang diperuntukkan bagi anak-anak). Hal ini dipandang perlu dilakukan guna memperoleh cerita yang baik, bagus dan menunjang proses pendidikan bagi anak-anak, sehinga anak-anak akan terhindar dari pengaruh unsur negatif dari ekses bacaan tersbut.


B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan beberapa pokok masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kriteria memilih cerita yang baik dan dapat dijadikan panduan dalam pendidikan Islam di RA Riyadhussolihin Cibeureum Kecamatan Sukamantri?

2. Bagaimana penerapan metode cerita dalam pendidikan Islam di RA Riyadhussolihin Cibeureum Kecamatan Sukamantri dan kendala-kendalanya?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kriteria memilih cerita yang baik dan dapat dijadikan panduan dalam pendidikan Islam di RA Riyadhussolihin Cibeureum Kecamatan Sukamantri.

2. Untuk mengetahui penerapan metode cerita dalam pendidikan Islam di RA Riyadhussolihin Cibeureum Kecamatan Sukamantri dan kendala-kendalanya.

D. Manfaat Penelitian

1. Tulisan ini semoga dapat memberikan sumbangan ide maupun pemikiran kepada pihak sekolah.

2. Dapat bermanfaat bagi para pembaca yang concern dalam dunia pendidikan Islam, terutama bagi para guru dan pengelolaan TK Bustanul Athfal.

3. Bagi penulis pribadi, dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman untuk kehidupan dimasa depan.


BAB II

PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN

A. Lokasi dan Subyek Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di RA Riyadhussholihin Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis, dengan mengambil subyek guru dan peserta didik (siswa).

B. Prosedur

1. Persiapan Tindakan

Pada perencanaan ini dibuat instrumen-instrumen yang diperlukan dalam pembelajaran, antara lain :

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b. Mempersiapkan cerita

c. Membuat lembar observasi untuk merekam perencanaan, pelaksanaan, dan hasil kemampuan siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini, kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Orientasi penelitian adalah penerapan metode cerita dalam pembelajaran di RA Riyadhussholihin.


3. Penelitian/Pengamatan Tindakan

Observasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observasi ini bertujuan mengumpulkan data tentang kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran, keterlibatan semua siswa dalam setiap fase pembelajaran.

4. Analisis dan Refleksi Tindakan

Teknik analisis data yang digunakan dalam suatu penelitian ada yang bersifat analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Adapun prosesnya antara lain: data yang diperoleh dikategorikan dan diklasifikasikan berdasarkan analisis kaitan logisnya kemudian ditafsirkan, sehingga dapat memberi penjelasan dan makna terhadap hasil temuan mengenai pembangunan hipotesis-hipotesis yang terjadi dan apa penyebabnya.

Dari hasil data pengamatan selanjutnya diidentifikasi kelemahan dan kelebihannya serta mengkonsultasikan dengan rekan sejawat. Adapun hasilnya kemudian disusun menjadi kesimpulan-kesimpulan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya mencapai hasil tindakan yang memuaskan.

Hasil tindakan yang digambarkan dengan hasil tulisan subjek penelitian pada setiap akhir siklus, dinilai sesuai dengan pedoman penilaian yang telah direncanakan. Hasil penilaian tulisan siswa tersebut dianalisis dengan syarat pencapaian target pada setiap aspek-aspeknya, hasilnya digunakan untuk mengidentifikasi masalah, melihat tingkat perkembangan kemampuan siswa dan ketercapaian hasil siswa. Dengan menilai hasil tulisan pada setiap akhir siklus, dan dianalisis dengan syarat pencapaian target pada setiap aspek-aspeknya, hasil tindakan dari penelitian ini dapat diketahui. Selanjutnya hal terserbut digunakan untuk menjawab rumusan masalah, tujuan dan hipotesis tindakan dalam penelitian ini.


BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dari usaha-usaha yang dilakukan di RA Riyadhussholihin Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis tentunya akan membuahkan hasil-hasil yang diharapkan dari penerapan metode cerita ini. Minimal akan bermanfaat bagi anak didik, para guru yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di RA Riyadhussholihin tersebut, dan menjadikan apa yang telah dilaksanakan di RA Riyadhussholihin sebagai sebuah motivator untuk lebih giat dalam mendidik anak dan mendapat inspirasi untuk lebih kreatif dalam mendidik anak bagi para pendidik. Adapun hasil-hasil yang terwujud dari usaha RA Riyadhussholihin adalah sebagai berikut :

1. Adanya motivasi dan pengarahan dari kegiatan yang dilakukan oleh RA Riyadhussholihin, para orang tua merasa terbuka pikirannya dalam hal mendidik anak. Munculnya gambaran tentang pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak dengan teori-teori yang baru merupakan semangat tersendiri bagi para guru dan orang tua. Kesan yang timbul dari mereka adalah merasakan adanya perubahan dan motivasi yang baru mengenai teori dan pengembangan dari metode mendidik anak. Untuk itu pemahaman kesadaran akan pentingnya pendidikan Islam bagi anak sejak dini, tentang ajaran nilai-nilai Islam sehingga akan lahir anak-anak yang cerdas terampil dan berakhlak mulia.[3]

2. Melalui cerita yang telah didengarkan oleh anak-anak, perubahan yang terjadi adalah tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma agama atau norma-norma masyarakat yang diketahuinya dari cerita. Anak-anak dapat menangkap pesan-pesan moral dari cerita dari pada lewat nasehat, karena pesan tersebut masuk kedalam hati dan pikiran anak-anak tanpa adanya paksaan, dan proses penanaman ajaran Islam tersebut mereka sukai. Cerita-cerita selalu terngiang dalam benak anak-anak mulai dari hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk, jadi secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari.[4]

Agar lebih memperkuat hasil dari penelitian yang penulis lakukan di RA Riyadhussholihin tentang hasil dari penerapan metode cerita yang dilaksanakan, penulis menggunakan angket (quesioner) untuk para wali murid yang berisikan tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keberhasilan sekolah dalam mendidik anak dan peran orang tua sebagai pendidik utama dalam mendidik anak.

Adapun hasil dari angket tersebut dapat dilihat sebagai berikut:


TABEL I

PERAN AKTIF ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN ANAK

No

Jawaban Responden

F

%

1

2

3

Ya, selalu

Tidak

Kadang-kadang

26

-

4

86,6

-

13,4



30

100

Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2008

Secara jelas telah diungkapkan oleh tabel 1 diatas mengenai peran orang tua murid memperhatikan anak-anaknya dalam proses pendidikannya, dari tabel diatas menerangkan bahwa ada 26 orang tua murid yang aktif dan 4 orang tua murid yang kurang aktif dalam membantu proses pendidikan anak dari 30 responden.

Untuk mengetahui peran serta orang tua dalam mendidik anak dengan metode cerita, dapat dilihat pada tabel berikut:

TABEL II

KEBIASAAN ORANG TUA BERCERITA/MENDONGENG

KEPADA ANAK

No

Jawaban Responden

F

%

1

2

3

Ia, selalu

Tidak pernah

Kadang-kadang

6

2

22

20

6,7

73,3



30

100

Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2008

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa wali murid juga berperan dalam pengembangan metode cerita dalam pendidikan anak meskipun tidak rutin dilakukan, terbukti ada 6 wali murid yang melakukan selalu, 22 wali murid yang kadang-kadang dan 2 wali yang tidak pernah.

Kemudian untuk mengetahui peran guru dalam pendidikan anak, dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL III

USAHA-USAHA WALI MURID MENGATASI KEKURANGMAMPUAN ANAK DALAM BELAJAR

No

Jawaban Responden

F

%

1

2

3

Menyerahkan pada guru sekolah

Diajari sendiri

Mengundang guru privat

14

14

2

46,7

46,7

6,6



30

100

Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2008

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 14 responden yang mempercayakan pada guru sekolahnya, 14 responden yang mengatasi sendiri, dan 2 responden yang mengundang guru privat.

Kemudian terakhir bagaimanakah keberhasilan dari proses pendidikan Islam kepada Anak, dapat kita lihat di tabel berikut ini:

TABEL IV

KEBIASAN ANAK MENGUCAPKAN SALAM

No

Jawaban Responden

F

%

1

2

3

Ia, selalu

Tidak

Kadang-kadang

22

-

8

73,4

-

26,6



30

100

Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2004

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 22 orang siswa yang sudah terbiasa mengucapkan salam dan ada 8 orang siswa yang masih kadang-kadang. Ini salah satu dari ajaran Islam yang pernah guru ajarkan.

Namun kesemuanya itu tidak lepas dari peran orang tua yang sangat vital dalam mendidik anak-anak mereka. Pemahaman dan pengetahuan akan metode pendidikan yang dilakukan oleh RA Riyadhussholihin bagi para orang tua sangatlah penting mengingat RA Riyadhussholihin tersebut tidak mutlak dan utama dalam mendidik anak-anak. Apapun alasannya, pendidik yang utama dan terbaik adalah orang tua, hanya saja para orang tua perlu untuk mendapatkan teori dan metode yang baik serta yang bersifat kreatif inovatif sehingga dalam usaha mendidik anak-anak mereka tidak terasa monoton atau kejenuhan. Karena jiwa manusia, terlebih lagi anak-anak yang suka terhadap hal-hal yang menyenangkan, untuk itu maka cerita merupakan salah satu metode efektif bagi pendidikan Islam untuk anak.

B. Pembahasan

Penerapan sebuah metode cerita atau bercerita, ada beberapa hal yang sangat penting yang dilakukan oleh para guru RA Riyadhussholihin supaya cerita yang akan disampaikan dapat lebih efektif, efisien dan enak untuk disampaikan, sehingga dapat dinikmati bagi pendengar cerita/siswa dan lebih mudah menangkap pesan nilai-nilai pendidikan Islam dalam sebuah cerita, cerita lebih mudah difahami serta tertanam dihati sehingga dapat bermenfaat bagi pendengarnya.

Beberapa hal tersebut antara lain:

1. Persiapan

Persiapan disini adalah menentukan jenis cerita atau tema cerita dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut;

a. Usia pendengar

b. Kondisi anak didik

c. Suasana anak didik

d. Keadaan alam

Hal-hal yang dilakukan oleh guru-guru RA Riyadhussholihin dalam persiapan diatas sangat menentukan sekali dalam mencapai tujuan bercerita seperti yang diinginkan. Dengan tema dan jenis cerita yang sesuai dengan hal-hal diatas diharapkan akan berhasil mempengaruhi pendengar untuk masuk dalam dunia cerita, sehingga pesan tentang nilai-nilai pendidikan Islam yang ada didalam sebuah cerita akan ditangkap dengan mudah oleh anak.

2. Penyampaian Cerita

Teknik penyampaian cerita kepada anak, para guru RA Riyadhussholihin menggunakan beberapa cara agar cerita yang disampaikan dapat menarik pendengar, yaitu :


3. Komunikasi

Keterampilan komunikasi yang dimiliki oleh guru sangat bagus sehingga dalam berhubungan dengan pendengar (anak didik) tercipta dengan baik. Komunikasi yang baik dari para guru RA Riyadhussholihin tercipta dengan adanya latihan-latihan dan pengalaman yang banyak, setelah beberapa lama berkecimpung dengan dunia anak, untuk menarik perhatian anak memang memerlukan keterampilan tertentu, apalagi dalam hal ini adalah komunikasi dengan anak yang berjumlah puluhan yang secara kepribadian dan sikapnya akan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dibuktikan dengan pendengar yang dibuat terpana dan mendengarkan cerita dengan serius.

4. Variasi Suara

Dengan ditunjang oleh ekspresi wajah yang menggambarkan sang tokoh, guru juga membeda-bedakan suara dan ekspresi wajah setiap tokoh cerita. Guru cerita harus mempunyai kemahiran dalam menirukan suara orang tua, anak-anak, suara orang laki-laki maupun perempuan serta suara-suara binatang dan bermacam-macam suara yang lain, misalnya suara angin, air dan lain-lain. Sehingga cerita dapat kelihatan lebih hidup dan menarik untuk disimak. Dalam hal ini sejauh mungkin guru menghindari dari suara atau ekspresi yang monoton.


5. Penggunaan Alat Peraga

Saat menyampaikan cerita kepada anak selain dengan intonasi suara yang teratur dan ekspresi yang sesuai dengan alur cerita, juga didukung dengan alat peraga, seperti boneka, gambar-gambar dan sebagainya. Supaya cerita akan lebih menarik dan anak akan semakin terfokus perhatiannya.

6. Pertanyaan Pancingan

Pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan untuk memancing seberapa paham anak dalam menangkap cerita, selain itu berfungsi untuk mengkondisikan kembali keadaan anak didiknya, misalnya ada anak terlihat bosan dan kurang berkonsentrasi.

Pada dasarnya teknik penyampaian cerita yang dilaksanakan di RA Riyadhussholihin hampir serupa dengan teori cerita yang tertulis dalam buku-buku teknik bercerita. Namun ada satu hal yang menarik yang selama ini belum tertulis dalam buku-buku tersebut. Yaitu rasa ikhlas, rasa ikhlas dalam bercerita yang dilaksanakan di RA Riyadhussholihin ini sangat menentukan bagaimana guru dapat begitu gembira disaat sedang bercerita. Rasa ikhlas inilah yang akan membawa suasana tersendiri dalam setiap melakukan kegiatan bagi guru cerita, maupun bagi pendengarnya.[5]

Agar lebih memperkuat hasil dari penelitian yang penulis lakukan di RA Riyadhussholihin tentang hasil dari penerapan metode cerita yang dilaksanakan, penulis menggunakan angket (quesioner) untuk para wali murid yang berisikan tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keberhasilan sekolah dalam mendidik anak dan peran orang tua sebagai pendidik utama dalam mendidik anak. Adapun hasil dari angket tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Secara jelas telah diungkapkan oleh tabel 1 diatas mengenai peran orang tua murid memperhatikan anak-anaknya dalam proses pendidikannya, dari tabel diatas menerangkan bahwa ada 26 orang tua murid yang aktif dan 4 orang tua murid yang kurang aktif dalam membantu proses pendidikan anak dari 30 responden.

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa wali murid juga berperan dalam pengembangan metode cerita dalam pendidikan anak meskipun tidak rutin dilakukan, terbukti ada 6 wali murid yang melakukan selalu, 22 wali murid yang kadang-kadang dan 2 wali yang tidak pernah.

Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa ada 14 responden yang mempercayakan pada guru sekolahnya, 14 responden yang mengatasi sendiri, dan 2 responden yang mengundang guru privat.

Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa ada 22 orang siswa yang sudah terbiasa mengucapkan salam dan ada 8 orang siswa yang masih kadang-kadang. Ini salah satu dari ajaran Islam yang pernah guru ajarkan.

Namun kesemuanya itu tidak lepas dari peran orang tua yang sangat vital dalam mendidik anak-anak mereka. Pemahaman dan pengetahuan akan metode pendidikan yang dilakukan oleh RA Riyadhussholihin bagi para orang tua sangatlah penting mengingat RA Riyadhussholihin tersebut tidak mutlak dan utama dalam mendidik anak-anak. Apapun alasannya, pendidik yang utama dan terbaik adalah orang tua, hanya saja para orang tua perlu untuk mendapatkan teori dan metode yang baik serta yang bersifat kreatif inovatif sehingga dalam usaha mendidik anak-anak mereka tidak terasa monoton atau kejenuhan. Karena jiwa manusia, terlebih lagi anak-anak yang suka terhadap hal-hal yang menyenangkan, untuk itu maka cerita merupakan salah satu metode efektif bagi pendidikan Islam untuk anak.


BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari uraian pembahasan di atas, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Kriteria cerita yang baik menurut para guru RA Riyadhussholihin adalah cerita yang sesuai dengan ajaran dan mengandung nilai-nilai pendidikan Islam. Untuk mengetahui kualitas sebuah cerita itu baik atau tidak, para guru RA Riyadhussholihin mengambil dari jenis cerita. Adapun jenis cerita yang digunakan di RA Riyadhussholihin sebagai berikut: jenis cerita campuran/kombinasi, jenis cerita sejarah (tarikh), jenis cerita fiksi (khayalan), jenis cerita Legenda (fiksi sejarah).

2. Dalam penerapan metode cerita yang dilaksanakan di RA Riyadhussholihin ada dua hal yang dijadikan panduan, diantaranya: persiapan, penyampaian cerita.

3. Metode cerita dapat dilakukan oleh siapapun, karena setiap orang yang telah mendengar cerita atau dongeng tentunya terdorong untuk menceritakan apa yang telah didapatkan kepada orang lain.


B. Saran-Saran

Dari hasil yang telah penulis lakukan, dapat penulis kemukakan bahwasanya dari pentingnya cerita bagi anak-anak, khususnya dalam proses pendidikan Islam, tidak dapat dilakukan begitu saja oleh satu lembaga pendidikan semata. Jadi dalam hal ini penulis menyarankan agar semua pihak yang terkait dalam pendidikan Islam khususnya anak-anak, baik perorangan maupun kelompok turut serta dalam menggunakan metode cerita dalam mendidik anak-anaknya. Bentuk dari saran penulis antara lain :

1. Hendaknya para pendidik (guru, orang tua, ulama’ dan lain-lain) dapat menguasai teknik bercerita sehingga dapat mendukung upaya dalam penanaman pendidikan Islam kepada orang lain, terlebih kepada anak-anak.

2. Walaupun metode cerita sangat efektif terutama dalam penanaman pendidikan Islam bagi anak, namun anak-anak harus dijauhkan dari cerita yang mengandung tema nilai-nilai keburukan. Seperti cerita yang cendrung akan merusak mental anak, misalnya cerita horor, cerita tentag tokoh-tokoh jahat, cerita tentang tokoh-tokoh antagonis yang dari cerita tersebut akan membawa anak-anak kepada hal-hal yang tidak terpuji.

3. Buat para orang tua yang menginginkan hubungan dirinya dengan anaknya tambah dekat hendaknya ia rajin bercerita. Walaupun sekarang ini sudah ada televisi dan buku-buku tetapi sebuah cerita / dongeng tetap lebih menarik bagi mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung : Remaja Rosda Karya,Cet II, 2002), Hal. VIII

Depdiknas, 2003, Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SMP/MTs, Jakarta : Depdiknas.

Depdiknas, 2003, Undang-Undang R.I Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Depdiknas

Hamdani Ihsan, , Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), Hal. 163

J. Mata Kupan, 2002, Teori Bermain, Jakarta : Universitas Terbuka

Ngalim Purwanto. M, 2003, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktik, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Winata Putra Udin, 1994, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka



[1] Hamdani Ihsan, , Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), Hal. 163

[2] Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung : Remaja Rosda Karya,Cet II, 2002), Hal. VIII

[3] Pengamatan penulis saat mengikuti pelajaran cerita, serta dipertajam dengan Wawancara dengan ibu Nurhayati (wali siswa).

[4] Ibid.

[5] Pengamatan penulis saat mengikuti pelajaran cerita, serta dipertajam wawancara dengan ibu Miskiyah (guru TPA),.

Rabu, 14 Januari 2009

Kecerdasan Logis bagi Anak Usia Dini

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual/ruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik lah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Dalam faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. Selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (UN) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak.

Tetapi, dalam kenyataan yang dihadapi saat ini, masih terdapat anak yang belum dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika. Seolah-olah mereka, dihadapkan pada dua hal yang dilematis, di satu sisi mereka “harus” menguasai matematika, di sisi lain ia merasa lemah untuk belajar matematika. Mungkinkah hal ini, akibat dari sistem pendidikan kita yang salah? Pola pengasuhan orangtua yang keliru? Atau memang potensi matematisnya tidak dikembangkan sejak usia dini? Atau “jangan-jangan” mereka tidak mau belajar karena merasa tidak butuh dengan matematika.

Hakikatnya, setiap individu itu dalam kehidupannya pasti membutuhkan matematika (meski tingkat sederhana, misal: jual beli). Dan, pada prinsipnya setiap anak itu dikaruniai kemampuan matematis, yakni memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. Anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda, jumlah saudaranya, dll. Sekarang, tinggal tugas orangtua dan pendidik lah untuk mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Kecerdasan matematis memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa. Beberapa kemampuan matematika tingkat tinggi akan menurun setelah usia 40 tahun. Kecerdasan matematis logis dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. Dalam tes IQ, kecerdasan matematis logis sangat diutamakan. Oleh karenanya, matematika menjadi “bermakna” dalam kehidupan individu manusia.

Nah, berpijak pada uraian singkat tersebut, kita menjadi maklum bahwa dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. Oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. Harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya.

Dengan demikian, PAUD menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. Tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. Misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. Dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika.

Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk menulis sebuah makalah dengan judul "Pengaruh Kecerdasan Logika Matematika dalam Pendidikan Anak Usia Dini".

B. Perumusan Masalah

Agar pembahasan dalam makalah ini sistematis, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud kecerdasan logika matematika?

2. Bagaimana cara mengasah kecerdasan logika matematika pada anak?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui definisi kecerdasan logika matematika.

2. Untuk mengetahui cara mengasah kecerdasan logika matematika pada anak usia dini.

D. Kerangka Berpikir

Rendahnya mutu pendidikan masih disandang bangsa Indonesia. Hal ini dapat diminimalkan dengan mengoptimalkan pendidikan pada anak sejak dini, terutama pendidikan matematika. Mengingat image masyarakat terhadap matematika yang menganggap pelajaran yang menakutkan. Padahal, matematika dapat diberikan kepada anak sejak usia 0+ tahun.

Anak pada usia 0-6 tahun perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia inilah kesiapan mental dan emosional anak mulai dibentuk. Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan yaitu kesiapan mental dan emosional anak memasuki sekolah dasar.

Anak mulai belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak bayi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak bayi dibentuk pada usia 0-6 tahun. Oleh sebab itu asupan nutrisi yang cukup juga harus diperhatikan. Para ahli neurologi meyakini sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi pada usia 4 tahun, 80% terjadi ketika usia 8 tahun, dan 100% ketika anak mencapai usia 8 - 18 tahun.

Itulah sebabnya, mengapa masa anak-anak dinamakan masa keemasan. Sebab, setelah masa perkembangan ini lewat, berapapun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat lagi.

Bagi yang memiliki anak, tentu tidak ingin melewatkan masa keemasan ini. Berdasarkan kajian neurologi dan psikologi perkembangan, kualitas anak usia dini disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan juga dipengaruhi faktor kesehatan, gizi dan psikososial yang diperoleh dari lingkungannya. Maka faktor lingkungan harus direkayasa dengan mengupayakan semaksimal mungkin agar kekurangan yang dipengaruhi faktor bawaan tersebut bisa diperbaiki.

Dalam tahun-tahun pertama kehidupan, otak anak berkembang sangat pesat dan menghasilkan bertrilyun-trilyun sambungan yang memuat berbagai kemampuan dan potensi. Nutrisi bagi perkembangan anak merupakan benang merah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Setidaknya terdapat 6 aspek yang harus diperhatikan terkait dengan perkembangan anak antara lain: pertama, perkembangan fisik: hal ini terkait dengan perkembangan motorik dan fisik anak seperti berjalan dan kemampuan mengontrol pergerakan tubuh.

Kedua, perkembangan sensorik: berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan panca indra dalam mengumpulkan informasi. Ketiga, perkembangan komunikasi dan bahasa: terkait dengan kemampuan menangkap rangsangan visual dan suara serta meresponnya, terutama berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mengekspresikan pikiran dan perasaan. Keempat, perkembangan kognitif: berkaitan dengan bagaimana anak berpikir dan bertindak. Kelima, perkembangan emosional: berkaitan dengan kemampuan mengontrol perasaan dalam situasi dan kondisi tertentu. Keenam, perkembangan sosial: berkaitan dengan kemampuan memahami identitas pribadi, relasi dengan orang lain, dan status dalam lingkungan sosial.

Para orang tua juga dituntut untuk memahami fase-fase pertumbuhan anak. Fase pertama, mulai pada usia 0-1 tahun. Pada permulaan hidupnya, anak diusia ini merupakan suatu mahkluk yang tertutup dan egosentris. Ia mempunyai dunia sendiri yang berpusat pada dirinya sendiri. Dalam fase ini, anak mengalami pertumbuhan pada semua bagian tubuhnya. Ia mulai terlatih mengenal dunia sekitarnya dengan berbagai macam gerakan. Anak mulai dapat memegang dan menjangkau benda-benda disekitarnya. Ini berarti sudah mulai ada hubungan antara dirinya dan dunia luar yang terjadi pada pertengahan tahun pertama (� 6 bulan). Pada akhir fase ini terdapat dua hal yang penting yaitu: anak belajar berjalan dan mulai belajar berbicara.

Fase kedua, terjadi pada usia 2-4 tahun. Anak semakin tertarik kepada dunia luar terutama dengan berbagai macam permainan dan bahasa. Dunia sekitarnya dipandang dan diberi corak menurut keadaan dan sifat-sifat dirinya. Disinilah mulai timbul kesadaran akan "Akunya". Anak berubah menjadi pemberontak dan semua harus tunduk kepada keinginannya.

Fase ketiga, terjadi pada usia 5-8 tahun. Pada fase pertama dan kedua, anak masih bersifat sangat subjektif namun pada fase ketiga ini anak mulai dapat melihat sekelilingnya dengan lebih objektif. Semangat bermain berkembang menjadi semangat bekerja. Timbul kesadaran kerja dan rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya. Rasa sosial juga mulai tumbuh. Ini berarti dalam hubungan sosialnya anak sudah dapat tunduk pada ketentuan-ketentuan disekitarnya. Mereka mengingini ketentuan-ketentuan yang logis dan konkrit. Pandangan dan keinginan akan realitas mulai timbul.

Untuk pendidikan matematika dapat diberikan pada anak usia 0+ tahun sambil bermain, karena waktu bermain anak akan mendapat kesempatan bereksplorasi, bereksperimen dan dengan bebas mengekspresikan dirinya. Dengan bermain, tanpa sengaja anak akan memahami konsep-konsep matematika tertentu dan melihat adanya hubungan antara satu benda dan yang lainnya.

Anak juga sering menggunakan benda sebagai simbul yang akan membantunya dalam memahami konsep-konsep matematika yang lebih abstrak. Ketika bermain, anak lebih terstimulasi untuk kreatif dan gigih dalam mencari solusi jika dihadapkan atau menemukan masalah.

Pada pendidikan matematika dapat diberikan misalnya pada pengenalan bilangan, terlebih dahulu diperdengarkan angka dengan menyebutkan angka satu, dua, tiga dan seterusnya. Dan perlihatkan benda-benda berjumlah satu, dua, tiga dan seterusnya, bukan berarti materinya langsung mengenalkan lambang bilangan "dua" karena anak akan bingung. Dengan bertambahnya kecerdasan dan umur barulah diperkenalkan ke lambang bilangan.

Pengenalan geometri, anak diberikan berbagai macam bentuk bangun misalnya bola, kotak, persegi, lingkaran dan sebagainya. Dengan memerintahkan anak mengambil bangun yang disebutkan nama dan ciri-cirinya.

Pengenalan penjumlahan dan pengurangan, pakailah lima bola berdiameter sama yang dapat digenggam. Untuk pengurangan, sebanyak lima bola diambil satu, dua, ..., dan lima. Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, dua, ..., sampai empat pada bola yang tergenggam. Mengingat ciri khas pada setiap jumlah bola yang sering dilihatnya, anak pun akan melihat kejanggalan ketika dikurangi atau ditambah. Peristiwa tersebut membuatnya semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai perubahan jumlah bola yang digenggamnya. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan warnanya beragam, pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi pada jumlah bola yang tampak.

Pengenalan hubungan atau pengasosiasian antara benda, misalnya berikan kotak dan dilanjutkan dengan memperlihatkan benda yang berbentuk kotak lain seperti kotak susu, bungkus sabun dan sebagainya. Dibenak anak dapat menghubungkan antar kotak yang satu dengan yang lainnya. Sehingga pendidikan matematika dapat diberikan kepada anak usia dini dimulai dari pendidikan keluarga, yang dilakukan oleh orang tua sebagai guru terdekat sang anak.

Peran penting yang dapat dilakukan orang tua yaitu sebagai: Pertama, pengamat. Orang tua mengamati apa yang dilakukan oleh anak sehingga dapat mengikuti proses yang berlangsung. Ketika dibutuhkan, orang tua dapat memberikan dukungan dengan mengacungkan jempol, mengangguk tanda setuju, menyatakan rasa sukanya, bahkan ikut bermain. Kedua, manajer. Orang tua memperkaya ide anak dengan ikut mempersiapkan peralatan sampat tempat bermain. Ketiga, teman bermain. Orang tua ikut bermain dengan kedudukan sejajar dengan anak. Keempat, pemimpin (play leader). Dalam hal ini orang tua berperan menjadi teman bermain, sekaligus memberikan pengayaan dengan memperkenalkan cara serta tema baru dalam bermain.

Pengaruh orang tua sebagai "guru" pada anak memiliki porsi terbesar dilingkungannya, sehingga orang tua dalam mendidik dapat beracuan: pertama, berorientasi pada anak (pupil centered). Dalam mengajar anak tidak dengan komunikasi satu arah dengan kata lain orang tua dinyatakan orang yang paling tahu dan paling pandai.

Kedua, dinamis. Dalam mendidik anak bawalah mereka sambil bermain dan orang tua dapat memancing anak untuk memunculkan ide kreatif dan inovatifnya. Ketiga, demokratis. Ini berarti, memberikan kesempatan pada anak untuk menuangkan pikirannya dan bersikap tidak sok kuasa.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kecerdasan Logika Matematika

Kecerdasan (Inteligensi)secara umum dipahami pada dua tingkat yakni :

1. Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.

2. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.

Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan kecerdasan matematis logis menurut Gardner adalah kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan.

Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual.

Kecerdasan logis matematis adalah kemampuan memahami suatu kondisi atau keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Fokusnya yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah secara logis berdasarkan informasi-informasi yang dimiliki. Sering disebut juga sebagai kemampuan analisis. Jadi, kecerdasan logis matematis tak dibatasi pada kemampuan memecahkan soal hitung-hitungan saja.

Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan melakukan penalaran, beurusan dengan angka dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan rasional dan berpikir jernih.Contohnya: biasanya anak akan melihat suatu mesin bukan dari keindahannya tetapi dari bagaimana cara kerja mesin itu (urutan kerjanya), juga biasanya senag main catur dan otomatis biasanya senang dengan pelajaran matematika.Kecendengannya nanti pada saat bekerja juga ada hubungannya dengan angka-angka tersebut.

Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainstifik, dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan, banker dan tentu saja ahli matematika.

Berkaitan dengan pelajaran matematika. Tokoh-tokoh yang terkenal antara lain Madame Currie, Blaise Pascal, B.J. Habibie.

B. Ciri-Ciri Kecerdasan Logika Matematika

Kecerdasan Matematis-logis berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka dan logika. Orang-orang ini cenderung pintar dalam teka-teki, gambar, aritmatika, dan memecahkan masalah matematika, mereka seringkali menyukai komputer dan pemrograman.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan logika matematika ini di antaranya adalah:

1. banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal,

2. suka bekerja atau bermain dengan angka,

3. lebih tertarik pada game matematika dan komputer dibandingkan permainan lain,

4. suka mengerjakan teka teki logika atau soal-soal angka yang sulit, suka dan memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran matematika,

5. sering melakukan percobaan mengenai ilmu pasti, pada saat pelajaran maupun pada waktu luangnya, suka membuat kategori, hierarki, atau pola logis lain,

6. suka permainan catur, main dam, atau permainan strategi lain,

7. mudah memahami rumus dan cara kerjanya serta tepat dalam mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari dan

8. pandai menggunakan pengetahuannya dan memberi pendapatnya untuk memecahkan persoalan sehari-hari.

Menurut Gardner, ciri anak cerdas matematik logis pada usia balita, anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut, mengamati benda-benda yang unik baginya, hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba. Seperti bagaimana jika kakiku masuk kedalam ember penuh berisi air atau penasaran menyusun puzzle. Mereka juga sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan. Selain itu anak juga suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung.

C. Merangsang Kecerdasan Logika Matematika pada Anak Usia Dini

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? Kita bisa mengenalkan pertama kali pemahaman konsep matematika sejak usia dini dari lingkungan sekitar kita dan pengalaman sehari-hari anak serta memberikan stimulasi yang mendukung. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, dan melalui permainan-permainan. Dalam pendidikan anak, peran orangtua tak tergantikan dan rumah merupakan basis utama pendidikan anak. Banyak permainan eksplorasi yang bisa mengasah kemampuan logika matematika anak, namun tentu hal ini harus disesuaikan dengan usia anak. Saat anak balita bermain pasir, anak sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya yang melatih motorik halusnya sehingga kelak anak mampu memegang pensil, menggambar dan lain-lain. Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

Ketika kita mengenalkan angka pada anak jangan hanya sebagai simbol, misalnya kita mempunyai dua jeruk, sediakan dua buah jeruk. Sehingga anak paham tentang konsep angka dan bilangan. Lagu juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan berbagai tema tentang angka. Seperti lagu balonku ada lima. Atau kita bisa berkreasi menciptakan lagu sederhana sendiri sambil memperagakan jari kita sebagai alat untuk menghitung, sehingga secara perlahan anak mudah menangkap konsep abstrak dalam bilangan.

Setelah anak mengenal bilangan 1 sampai 10, maka bisa dikenalkan bilangan nol. Memberikan pemahaman konsep bilangan nol pada anak usia dini tidaklah mudah. Permainan ini dapat dilakukan dengan menghitung magnet yang ditempelkan di kulkas. Cobalah mengambil satu persatu dan mintalah anak menghitung yang tersisa. Lakukan berulangkali sehingga magnet di kulkas tidak ada lagi yang melekat. Saat itu dapat diunjukkan bahwa yang dilihat pada kulkas adalah 0 (nol) magnet.

Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa. Bisa juga membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran. Sesekali lakukan juga kegiatan membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu. Memasak sambil melihat resep juga melatih keterampilan membaca dan belajar kosakata. Jangan risaukan keadaan dapur yang akan menjadi kotor dan berantakan dengan tepung dan barang-barang yang bertebaran, karena seperti slogan sebuah iklan bahwa berani kotor itu baik. Anak senang dan tanpa sadar mereka telah belajar banyak hal. Saat dimeja makan pun kita mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekelurga kebagian semua, puding ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila puding sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.

Kita dapat juga memberikan konsep matematika seperti pemahaman kuantitas, seperti berapa jumlah ikan hias di akuarium. Ketika bersantai di depan rumah, anak diajak menghitung berapa banyak motor yang lewat dalam 10 menit. Kenalkan juga konsep perbandingan seperti lebih besar, lebih kecil dan sebagainya, misalnya dengan menanyakan pada anak roti bolu dengan roti donat mana yang ukurannya lebih besar. Saat kita mengenalkan dan menanyakan pada anak bahwa mobil bergerak lebih cepat daripada motor, pohon kelapa lebih tinggi dari pohon jambu, atau tas kakak lebih berat daripada tas adik, sebenarnya hal ini sudah termasuk mengajarkan anak pada konsep kecepatan, panjang dan berat, sehingga fungsi kecerdasan matematikanya menjadi aktif.

Untuk kegiatan di luar rumah, ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya. Kita juga bisa memberikan game-game dalam komputer yang edukatif yang mampu merangsang kecerdasan anak.

Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung dan juga bermanfaat melatih kemampuan manipulasi motorik halus terutama melatih kekuatan jari tangan yang di kemudian hari bermanfaat untuk persiapan menulis. Selama bermain anak dituntut untuk fokus mengikuti alur permainanyang pada gilirannya akan melatih konsentrasi dan ketekunan anak yang dibutuhkan saat anak mengikuti pelajaran disekolah.

Mengapa stimulasi untuk kecerdasan anak banyak melalui permainan-permainan dan kegiatan bermain yang menyenangkan? Karena dengan bermain akan membuat anak dapat mengekspresikan gagasan dan perasaan serta membuat anak menjadi lebih kreatif. Dengan bermain juga akan melatih kognisi atau kemampuan belajar anak berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya. Saat memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan dalam memecahkan masalah (problem solving). Misalnya menyusun lego atau bermain pasel. Anak dihadapkan pada masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas. Dan ini juga akan melatih ketika anak kelak di sekolah mendapat pelajaran-pelajaran matematika yang berdasarkan pemecahan masalah (problem solving).

Bagi usia prasekolah, ketika orangtua sudah mulai merangsang kecerdasan logis matematis dirumah, maka akan lebih mudah bagi anak menerima konsep matematika ketika mulai masuk sekolah. Bagi anak yang telah masuk sekolah, orangtua juga harus terus mendukung dengan memberikan berbagai macam eksplorasi ataupun permainan-permainan yang semakin mengasah kecerdasan matematik logis anak dengan cara yang kreatif dan menyenangkan untuk terus menarik keingintahuan anak. Dengan demikian anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman siswa dan problem solving (pemecahan masalah), kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik sehingga matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Dalam buku yang berjudul ”Menjadi Guru Yang Mampu dan Bisa Mengajar” disebutkan Learning is Most Effective When It’s Fun.

D. Urgensi Kecerdasan Logika Matematika pada Anak Usia Dini

Satu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, aku sayang ayah. Tiga-tiga, sayang adik kakak. Satu dua tiga sayang semuanya.

Apa hubungan lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu dengan logika matematis? Ternyata pengenalan urutan kesatu, kedua, lalu ketiga itu merupakan salah satu contoh logika matematis. Nah penguasaan logika dan penalaran matematis ini disebut kecerdasan logis matematis. Kecerdasan ini dipopulerkan oleh Howard Gardner, profesor pendidikan di Harvard University yang memasukkannya sebagai bagian dari kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence). Lebih lengkapnya, kecerdasan logis matematis adalah kemampuan memahami suatu kondisi atau keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Fokusnya yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah secara logis berdasarkan informasi-informasi yang dimiliki. Sering disebut juga sebagai kemampuan analisis. Jadi, kecerdasan logis matematis tak dibatasi pada kemampuan memecahkan soal hitung-hitungan saja.

Pada dasarnya, semua anak memiliki kecerdasan logis matematis. Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Minat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan berhitung (pada khususnya) juga memengaruhi perkembangan kecerdasan ini. Satu hal yang pasti, kecerdasan ini perlu dikembangkan—terlebih di usia prasekolah—karena anak diharapkan mampu melakukan tugas-tugas sederhana yang mungkin saja mengandung beberapa persoalan yang harus dipecahkannya.

Contoh, ketika anak diminta merapikan mainan yang berserakan, dia tahu bagaimana cara merapikannya dengan memilah-milah dan memasukkannya ke dalam boks mainan berdasarkan tipenya, merapikan buku-buku berdasarkan ukurannya ke rak, dan sebagainya. Contoh lain, jika tiba-tiba mobil-mobilannya tidak bisa jalan, anak diharapkan dapat mencari apa penyebabnya secara logis dan sistematis berdasarkan segala informasi yang dimilikinya. Anak yang memiliki kecerdasan logis matematis yang baik, akan mudah memahami situasi maupun kondisi yang tengah dihadapi, kemudian berusaha memecahkan masalahnya.

Dalam faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. Selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (UN) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak.

Tetapi, dalam kenyataan yang dihadapi saat ini, masih terdapat anak yang belum dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika. Seolah-olah mereka, dihadapkan pada dua hal yang dilematis, di satu sisi mereka “harus” menguasai matematika, di sisi lain ia merasa lemah untuk belajar matematika. Mungkinkah hal ini, akibat dari sistem pendidikan kita yang salah? Pola pengasuhan orangtua yang keliru? Atau memang potensi matematisnya tidak dikembangkan sejak usia dini? Atau “jangan-jangan” mereka tidak mau belajar karena merasa tidak butuh dengan matematika.

Hakikatnya, setiap individu itu dalam kehidupannya pasti membutuhkan matematika (meski tingkat sederhana, misal: jual beli). Dan, pada prinsipnya setiap anak itu dikaruniai kemampuan matematis, yakni memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. Anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda, jumlah saudaranya, dll. Sekarang, tinggal tugas orangtua dan pendidik lah untuk mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Kecerdasan matematis memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa. Beberapa kemampuan matematika tingkat tinggi akan menurun setelah usia 40 tahun. Kecerdasan matematis logis dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. Dalam tes IQ, kecerdasan matematis logis sangat diutamakan. Oleh karenanya, matematika menjadi “bermakna” dalam kehidupan individu manusia.

Nah, berpijak pada uraian singkat tersebut, kita menjadi maklum bahwa dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. Oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. Harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya.

Dengan demikian, PAUD menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. Tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. Misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. Dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika.

E. Kemampuan Logis-Matematis Anak Prasekolah

Nah, berikut ini kemampuan logis matematis yang seyogianya dikuasai anak usia dini (early childhood) dan bagaimana menstimulasinya.

1. Kategorisasi/Penggelompokan

Anak dapat memilah-milah/mengelompokkan/mengategorisasikan segala sesuatu berdasarkan warna, bentuk, ukuran atau lainnya.

Contoh stimulasi:

Minta anak mengelompokkan sedotan—gunakan sedotan warna-warni—sesuai warnanya; mana yang merah, hijau, biru, dan seterusnya. Atau, minta anak menyusun buku-buku ceritanya dari yang kecil/tipis sampai yang ukuran tebal; merapikan koleksi mobil-mobilannya dari yang kecil-kecil hingga yang besar; dan lainnya.

2. Mencocokkan/Menghubungkan

Secara nalar dan logika anak dapat menghubungkan atau mencocokkan suatu sebab-akibat, suatu keadaan dan kondisi tertentu atau mengasosiasikan sesuatu.

Contoh stimulasi:

Lakukan dengan bantuan gambar. Misal, di sebelah kiri ada deretan simbol angka 1, 2, 3, 4, dan 5; di sebelah kanan ada deretan gambar apel dengan jumlah tertentu. Kemudian, minta anak menghubungkan dengan garis antara simbol angka dengan jumlah apel yang sesuai.

3. Komparasi/Perbandingan

Anak bisa membandingkan sesuatu dari banyak hal, apakah itu warna, pola-pola tertentu, bentuk, ukuran, dan lainnya.

Contoh stimulasi:

Letakkan dua atau lebih suatu benda di meja, lalu minta anak menyebutkan mana yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar. Bisa juga orangtua meletakkan beberapa gelas berisi air dan minta anak menyebutkan mana yang lebih banyak dan lebih sedikit airnya.

4. Pemahaman Bentuk Geometri

Dapat mengenal bentuk-bentuk geometri sederhana seperti bulat, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya.

Contoh stimulasi:

Minta anak menghitung jumlah bentuk segitiga pada sebuah gambar rumah yang sederhana atau menghitung jumlah roda pada alat transportasi seperti becak, sepeda, dan sebagainya.

5. Pemahaman Bilangan (number bond)

Anak terampil mengolah angka dan menggunakan perhitungan matematis. Angka juga suatu simbol yang digunakan untuk berbagai macam hal, apakah itu menunjukkan waktu, ukuran, harga, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah:

  1. Mengurutkan Bilangan (Membilang)

Dapat membilang atau mengurutkan angka secara bertahap, seperti menyebutkan bilangan 1-5, kemudian sampai 10, dan seterusnya disesuaikan dengan kemampuan anak. Di sini anak juga belajar mengenai konsep dasar angka, dimana angka 1 lebih sedikit jumlahnya dari angka 2, angka 2 lebih sedikit jumlahnya dari angka 3, dan seterusnya. Konsep angka ini juga berguna bagi anak untuk bisa menyatakan waktu, memutar nomor telepon, dan sebagainya.

Cara stimulasi:

Paling mudah lewat nyanyian, seperti lagu, "Satu-satu aku sayang ibu…." Atau, ketika naik turun tangga, minta anak sambil menyebutkan bilangan secara urutan. Bisa juga dengan bantuan benda seperti apel/bola yang dimasukkan ke dalam keranjang, "1 apel, 2 apel, 3 apel,.." Sambil anak diajak menghitung bendanya.

  1. Perhitungan Sederhana

Dapat melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana. Konsep perhitungan ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, semisal ketika berbelanja.

Cara stimulasi:

Lakukan lewat nyanyian, seperti, “Satu ditambah satu sama dengan dua. Dua di tambah dua….” atau lagu-lagu lain yang orangtua dapat ciptakan sendiri. Bisa juga dengan mengajak anak bermain “tambah kurang”. Contoh, letakkan beberapa buah kubus mainan si kecil, lalu katakan, “Adek, lihat nih, Ibu punya 1 kubus (sambil meletakkan 1 kubus). Kemudian, Adek memberikan 2 kubus kepada Ibu (sambil meletakkan 2 kubus tersebut di dekat kubus yang pertama). Nah, sekarang kubus Ibu ada berapa, ya? Coba Adek hitung....” Begitu pun dengan pengurangan, namun agar anak mngerti jangan gunakan kata “dikurang” tetapi “diambil”.

Belajar matematika tak harus serius, namun bisa menyisipkannya dalam
pengalaman sehari-hari. Berikan pemahaman konsep matematika seperti
mengajarkan anak pemahaman kuantitas. Tanyakan padanya es krim A dengan B mana yang ukurannya lebih besar. Yang penting, papar Abdur,
orangtua memberikan stimulasi yang memadai. Saat anak sudah bisa
berkomunikasi, Anda bisa memasukkan informasi seperti pengenalan
konsep perbandingan lebih besar, lebih kecil, dan sebagainya. Angka
hanyalah simbol, sebaiknya anak memahami proses dibalik angka. "Dari
magnitude inilah anak bisa mulai mengenal konsep angka, hal inilah
yang terkadang sering diabaikan orangtua," ujarnya.

Ketika Anda mengenalkan dan menanyakan pada anak si A berlari lebih
kencang dibanding B atau si B lebih tinggi dibandingkan A, atau tas a
lebih berat dibanding tas b, sebenarnya Anda sudah mengajarkan pada
anak konsep kecepatan, panjang dalam meter atau berat dalam kilogram.
Dengan demikian, fungsi kecerdasan matematika sudah aktif. "Sejauh
anak bisa memahami itu, orangtua bisa memberikan stimulasi yang lebih
tinggi," katanya. Jika ingin memasukkan anak ke lembaga khusus
matematika, coba tinjau kembali apakah kebutuhan tersebut dapat
terpenuhi.

Berikan penguatan jika pemahaman anak benar, sebaliknya luruskan
pemahamannya yang menyimpang. Misalnya, ketika anak mengatakan
kecambah akan tumbuh bertambah besar, artinya anak berpikir tak hanya
tambah tinggi namun juga volumenya lebih besar, katakan 'Ya kamu
benar' sebaliknya jika anak tak mampu menebak Anda bisa memancing
dengan pertanyaan `apakah jadi lebih besar atau lebih tinggi?'. Ini
salah satu bentuk orangtua mengevaluasi anak.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian pembahasan pada bab II di atas, maka sampailah penulis pada kesimpulan. Adapun kesimpulan yang dapat penulis tarik adalah sebagai berikut:

1. Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan melakukan penalaran, beurusan dengan angka dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan rasional dan berpikir jernih.Contohnya: biasanya anak akan melihat suatu mesin bukan dari keindahannya tetapi dari bagaimana cara kerja mesin itu (urutan kerjanya), juga biasanya senag main catur dan otomatis biasanya senang dengan pelajaran matematika.Kecendengannya nanti pada saat bekerja juga ada hubungannya dengan angka-angka tersebut.

2. Kita bisa mengenalkan pertama kali pemahaman konsep matematika sejak usia dini dari lingkungan sekitar kita dan pengalaman sehari-hari anak serta memberikan stimulasi yang mendukung. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, dan melalui permainan-permainan. Dalam pendidikan anak, peran orangtua tak tergantikan dan rumah merupakan basis utama pendidikan anak. Banyak permainan eksplorasi yang bisa mengasah kemampuan logika matematika anak, namun tentu hal ini harus disesuaikan dengan usia anak. Saat anak balita bermain pasir, anak sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya yang melatih motorik halusnya sehingga kelak anak mampu memegang pensil, menggambar dan lain-lain. Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

B. Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dalam makalah yang sederhana ini di antaranya adalah:

1. Dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. Oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. Harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya.

2. PAUD diharapkan dapat menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. Tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. Misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. Dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika.


DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, Heni Utami. RUU Sikdiknas Abaikan Pendidikan Anak Dini Usia. http:///www.pikiran .com/cetak/0403/15/0801.htm (Diakses Mei 2003)

Agustian, Ary Gunanjar.2002. Rahasia Sukses Membangun Keserdasan Emosi Dan Spiritual dan Spiritual: Esq (Emotional Spiritual Quotient) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya Persada.

Ahmar, Rosanah. Bercerita Kisah Al Quran Bantu Bentuk Watak Anak. http://www.danchan.com/weblog/wadah/65567 (Diakses Mei 2003)

Choun, Robert j.dan Michael s. Lawson, 1993. The Complete Handbook For Children Ministry: How To Reach and Teach Next Generation. Nashville:Thomas Nelson Publisher.

Dunia Anak: Prestasi Anak, Untuk Anak Atau Orangtua?. http://www.glorianet.org/keluarga/anak/anak pres.html (Diakses Mei 2003)

Sikap Religius Berawal dari Teladan: Kelaurga Menjadi Soko Guru bagi Pertumbuhan Sikap Religius Anak. Hal Penting yang Kelak akan Membawa Anak kepada Pencitraan Tuhan Secara Benar dalam Semangat Kesantunan dan Tolransi. http://www.indomedia.com/intisari/2002/02/khas_keluarga2. htm (Diakses Mei 2003)

Nogroho. 2003. “Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini Melalui Bercerita”. Makalah ini disajikan dalam Seminar Nasional Kelompok Studi Psikolinguistik Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pua, S.R. Bercerita pada Anak Oleh Tim Bengkel Pak-STTT Jakarta. http://asmbektinm.tripod.com/renung/renungGSM01.htm (Diakses Mei 2003)

Rakhmat, Jalaludin. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak. http://www.muthahhari.or.id/doc/artikel/sqanak.htm (Diakses Mei 2003)

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2003. Anak dan Dunia “Raja Kurus Dan Koki Gemuk”. Makalah ini disajikan dalam seminar nasional kelompok studi psikolinguistik jurusan bahasa dan sastra Indonesia.

Soekresno, Emmy. Masa-Masa Penting Pertumbuhan Anak. http://.balitacerdas.com/kembang/masapenting/html. (Diakses Mei 2003)